Marah, sedih, dan gelisah. Itulah perasaan anak bangsa melihat kondisi bangsa yang porak-poranda ini. Dijerat oleh krisis minyak, ditunggangi oleh para koruptor, dan dihancurkan oleh narkoba. Belum lagi, prestasi yang kian memudar dari wajah bangsa ini.
Tahun 2008, dibuka dengan penuh harapan oleh seluruh masyarakat. Pemerintah mencanangkan tahun ini sebagai 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Semua masyarakat pun berharap berkah dari kebaikan hati para pemimpin yang akan berlaga di pesta rakyat tahun 2009. Namun, semuanya berubah menjadi derita tatkala harga minyak melambung tinggi. Pemerintah pun dengan berat hati menaikkan harga BBM. Akibatnya, di mana-mana terjadi demonstrasi. Bahkan sebagian di antara demonstrasi tersebut bersifat anarkis. Ironisnya, sebagian besar pelaku anarkis tersebut ialah kaum mahasiswa. Kaum yang mengaku sebagai generasi cerdas dan merupakan calon pemimpin bangsa di kemudian hari. Akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?
Kenaikan harga minyak mentah memukul semua sektor. Ironisnya yang terkena imbas ialah sector pendidikan. Sektor yang merupakan dasar fundamental suatu bangsa di kemudian hari. Anggaran pendidikan pada APBNP 2008 menurun dari 18,9% menjadi 15,6%. Pendidikan dikalahkan oleh minyak. Bangsa yang belum pintar ini, bukannya dibuat pintar, namun malah dimanja oleh subsidi minyak. Sekali lagi, akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?
Tahun ini pula, ramai-ramai para pejabat menjadi “selebritis” di media massa. Bukan karena prestasi, melainkan karena korupsi. Pejabat yang terkena pun merata, mulai dari yudikatif, eksekutif, hingga legislatif. Sebuah cermin dari bangsa yang hancur. Sekali lagi, akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar