Jumat, 18 Juli 2008

Catatan Seorang Anak Bangsa

Suatu malam saya chatting dengan seorang teman dari negeri tetangga, Singapura. Setelah berceloteh panjang lebar, entah bagaimana ia mulai bercerita mengenai kebijakan dan kelebihan negara kota tersebut. Lalu ia pun bertanya pada saya mengenai Indonesia. Saya pun bingung. Bingung akan apa yang bisa saya banggakan dari negara nan luas ini...

Perasaan malu berkecamuk di dalam hati ini. Menundukkan kepala lebih sering daripada mendongakkan kepala. Itulah potret anak bangsa di hadapan dunia. Jangankan malu di hadapan dunia, terkadang kita pun dibuat malu di hadapan negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara. Tapi, itulah mengapa dan yang seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk membangun bangsa menjadi lebih baik di kemudian hari.

Marah, sedih, dan gelisah. Itulah perasaan anak bangsa melihat kondisi bangsa yang porak-poranda ini. Dijerat oleh krisis minyak, ditunggangi oleh para koruptor, dan dihancurkan oleh narkoba. Belum lagi, prestasi yang kian memudar dari wajah bangsa ini.

Tahun 2008, dibuka dengan penuh harapan oleh seluruh masyarakat. Pemerintah mencanangkan tahun ini sebagai 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Semua masyarakat pun berharap berkah dari kebaikan hati para pemimpin yang akan berlaga di pesta rakyat tahun 2009. Namun, semuanya berubah menjadi derita tatkala harga minyak melambung tinggi. Pemerintah pun dengan berat hati menaikkan harga BBM. Akibatnya, di mana-mana terjadi demonstrasi. Bahkan sebagian di antara demonstrasi tersebut bersifat anarkis. Ironisnya, sebagian besar pelaku anarkis tersebut ialah kaum mahasiswa. Kaum yang mengaku sebagai generasi cerdas dan merupakan calon pemimpin bangsa di kemudian hari. Akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?

Kenaikan harga minyak mentah memukul semua sektor. Ironisnya yang terkena imbas ialah sector pendidikan. Sektor yang merupakan dasar fundamental suatu bangsa di kemudian hari. Anggaran pendidikan pada APBNP 2008 menurun dari 18,9% menjadi 15,6%. Pendidikan dikalahkan oleh minyak. Bangsa yang belum pintar ini, bukannya dibuat pintar, namun malah dimanja oleh subsidi minyak. Sekali lagi, akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?

Tahun ini pula, ramai-ramai para pejabat menjadi “selebritis” di media massa. Bukan karena prestasi, melainkan karena korupsi. Pejabat yang terkena pun merata, mulai dari yudikatif, eksekutif, hingga legislatif. Sebuah cermin dari bangsa yang hancur. Sekali lagi, akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?

Jawabannya ada pada kita, generasi 2000. Generasi yang saat ini masih sibuk menimba ilmu. Di kemudian hari kitalah yang akan menentukan arah perjalanan bangsa ini. Maju, diam di tempat, atau mundur. Semuanya tergantung sejauh mana kita berani untuk mengambil tanggung jawab dan berperan dalam bidang kita masing-masing secara profesional demi bangsa kita tercinta, Indonesia. Mari, kita semua BANGKIT, BERSATU, dan BERANI BERBUAT untuk bangsa ini !

Tidak ada komentar: