Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Desember 2008

How Deep do U Love Ur Mother ??

Alkisah di sebuah desa, seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan : "Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi .Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati"

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan. keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan.

"Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya"
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat,anakknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah. Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia
tertidur karena kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2
manyaksikan
hukuman tersebut
Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan
nasibnya
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia
menangis menyesali perbuatannya

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang
sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang
bertugas
membunyikan lonceng datang
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi
suara dentangnya
tidak ada

Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah
Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang
naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata.

Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya
Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng. Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya

Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya. Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini. Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita... Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun

True Story in Winter

(true story, seperti temuat dalam Xia Wen Pao, 2007)

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.

Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.

Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.

Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca *,"Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun."*
------------ -------
**Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.
Take time to THINK. It is the source of power
Take time to READ. It is the foundation of wisdom
Take time to be QUIET. It is the opportunity to seek God
Take time to DREAM. It is what the future is made of
Take time to PRAY. It is the greatest power on earth....... . If tomorrow never comes

Mother's Love

When you were 8 years old,
your mom handed you an ice cream.
You thanked her by dripping it
all over your lap.
.
When you were 9 years old, she paid for
piano lessons. You thanked her by
never even bothering to practice.
.
When you were 10 years old she drove
you all day, from soccer to football
to one birthday party after another.
You thanked her by jumping out of the
car and never looking back.
.
When you were 11 years old, she took
you and your friends to the movies.
You thanked her by asking to sit in a
different row.
.
When you were 12 years old, she warned
you not to watch certain TV shows.
You thanked her by waiting until she left
the house.
.
When you were 13, she suggested a
haircut that was becoming. You thanked
her by telling her she had no taste.
.
When you were 14, she paid for a month
away at summer camp. You thanked her by
forgetting to write a single letter.
.
When you were 15, she came home from
work, looking for a hug. You thanked
her by having your bedroom door locked.
.
When you were 16, she taught you how
to drive her car. You thanked her by
taking it every chance you could.
.
When you were 17, she was expecting
an important call. You thanked her by
being on the phone all night.
.
When you were 18, she cried at your
high school graduation . You thanked
her by staying out partying until dawn.
.
When you were 19, she paid for your
college tuition, drove you to campus
carried your bags. You thanked her by
saying good-bye outside the dorm so you
wouldn't be embarrassed in front of
your friends.
.
When you were 25, she helped to pay
for your wedding, and she cried and
told you how deeply she loved you. You
thanked her by moving halfway across
the country.
.
When you were 50, she fell ill and
needed you to take care of her. You
thanked her by reading about the
burden parents become to their
children.And then, one day, she
quietly died.
.
And everything you never did came
crashing down like thunder on YOUR HEART..

LOVE Ur Mom NOW !!
Celebrate d' mother's day...

Senin, 04 Agustus 2008

Kesempatan Istimewa


Beberapa minggu setelah pemakaman emak (nenek), aku dan mamaku membongkar lemari pakaiannya. Kami memilah-milah pakaian yang dapat disumbangkan untuk orang lain. Mamiku menunjukkan sepotong bahan pakaian dari sutera. Di ujungnya masih terdapat bandrol harga. “Emak beli bahan ini waktu pergi ke Singapore bersama mami kira-kira 2 – 3 tahun lalu. Kain ini belum dijahitkan. Emak bilang kain ini mau dipakai kalau ada kesempatan khusus. Yah, sepertinya ini kesempatan khusus. Ambil saja buat kamu.” kata mami. Dengan perlahan tangannya membelai kain sutera ini, lalu diberikannya kepadaku. “Jangan menyimpan apa pun untuk kesempatan khusus. Tiap hari adalah kesempatan khusus.”

Aku selalu teringat apa yag dikatakan mami kepadaku tentang hal itu. Aku berpikir tentang segala hal yang belum pernah kulihat, atau dengar, atau lakukan. Aku berpikir tentang semua hal yang kujalani tanpa menyadari bahwa itu adalah hal yag special. Aku berpikir tentang itu semua, dan itu merubah hidupku. Aku sekarang lebih banyak bermain dengan anakku Stepahanie dan mengagumi jari-jari mungilnya, dan senyum manisnya, tanpa ribut tentang memasak hidangan istimewa hasil praktek resep dari sebuah majalah wanita. Aku duduk di teras sambil memandangi bintang lebih banyak daripada mengubur wajahku di buku-buku pelajaran S2 yang tebal. Aku menghabiskan waktuku untuk makan es krim di Mc Donald bersama anakku daripada menghadiri rapat-rapat. Aku mencoba mengenali waktuku sebagai saat yang special dan menikmati tiap detiknya.

Aku tidak “sayang” sesuatu pun; aku memakai peralatan makan dari keramik yang biasanya selalu tersimpan rapi di kotaknya. Aku pergi ke pasar dengan blouse yang bagus kalau aku ingin memakainya. Aku tidak menyimpan parfumku hanya untuk dipakai ke pesta. Idiom “suatu saat nanti” atau “kesempatan khusus” kuhapus dari kamusku. Kalau ada sesuatu yang berharga untuk dilihat, didengar, dinikmati – aku akan melakukannya SEKARANG. Aku tidak tahu apakah yang akan dilakukan emak seandainya ia tahu tidak akan ada bersama-sama dengan kami lagi. Aku pikir ia akan memanggil tante dan omku yang di luar kota, juga cucu-cucunya dan cicit-cicitnya yang di luar negeri. Lalu kami semua akan makan bersama dan bercerita panjang lebar. Aku tidak tahu…

Setiap pagi, ketika membuka mata, aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa setiap hari, setiap menit, setiap detik adalah kesempatan yang istimewa.

** Credit to: GKPB MDC **

Minggu, 20 Juli 2008

Cerita Tentang Tukang Ledeng

Suatu hari bos Mercedez Benz mempunyai masalah dengan kran air dirumahnya. Kran itu selalu bocor hingga dia khawatir anaknya terpeleset jatuh. Atas rekomendasi seorang temannya, Mr. Benz menelpon seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kranmiliknya. Perjanjian perbaikan ditentukan 2 hari kemudian karena si tukang ledeng rupanya cukup sibuk .


Si tukang ledeng sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman. Satu hari setelah ditelpon Mr.Benz, tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu hari lagi. Bos Mercy-pun kagum atas pelayanan dan cara berbicara pak tukang ledeng. Pada hari yang telah disepakati, si tukang ledeng datang ke rumah Mr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor. Setelah kutak sana kutak sini, kranpun selesai diperbaiki dan pak tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya .

Sekitar 2 minggu setelah hari itu, si tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah ? Mr. Benz berpikir pasti orang ini orang hebat walaupun cuma tukang ledeng . Mr. Benz menjawab di telepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng .

Tahukah anda bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja diperusahaannya ? Ya, namanya Christopher L. Jr. Saat ini beliau adalah General manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz.
If You Cannot Do Great Things, Just Do Small Things in Great Way